Jumat, 23 Januari 2009

Prinsip-prinsip Pendidikan Kesehatan

Latar belakang
Pendidikan kesehatan penting utk menunjang program kesehatan, tapi pd kenyataannya kurang dilibatkan, krn PK itu tidak segera dan jelas memperlihatkan hasil!
PK adalah behavioral investment jangka panjang
Immediate impact dan intermediate impact PK hanya peningkatan pengetahuan.

Tujuan Pendidikan kesehatan adalah mengubah perilaku dari yang merugikan kesehatan atau tidak sesuai dengan norma kesehatan ke arah tingkah laku yang menguntungkan kesehatan atau norma yg sesuai dengan kesehatan.
Hl Bloom, Status kesehatan dipengaruhui oleh:
Lingkungan
Perilaku
Pelayanan Kesehatan
Keturunan
Lewrence Green, perilaku dipengaruhi oleh 3 faktor:
Faktor predisposisi (predisposing factors)
Faktor pendukung (enabling factors)
Faktor penguat/pendorong (reinforcing factors)



PK merupakan penerapan konsep pendidikan di dlm bidang kesehatan. Konsep pendidikan adalah suatu proses belajar.
Ciri-ciri belajar:
Belajar merupakan kegiatan yg menghasilkan perubahan
Perubahan dari hasil belajar itu didapatkannya kemampuan baru yg berlaku utk waktu yg relatif lama
Perubahan itu tjd krn usaha dan disadari bukan krn kebetulan.

Prinsip pokok pendidikan kesehatan adalah proses belajar


Sasaran Pendidikan Kesehatan
PK individu dgn sasaran individu
PK kelompok dgn sasaran kelompok
PK masyrakat dgn sasaran masyarakat luas

Tempat Pelaksanaan PK
PK di sekolah
PK di Rumah sakit
PK di tempat kerja
PK di RT

TINGKAT PELAYANAN PK, BERDASARKAN FIVE LEVELS OF PREVENTION (LEAVEL & CLARK):
Health Promotion
PK dlm hal gizi, kebiasaan, sanitasi, hygiene perorangan
Specific Protection
Imunisasi, pemberian obat prophylaxis
Early Diagnosis and Prompt Treatment
PK utk berobat sedini mgk, deteksi dini penyakit
Disability Limitation
PK agar jangan tjd komplikasi penyakit
Rehabilitation
PK utk pemulihan kecacatan
Sub Bidang keilmuan pendidikan kesehatan
Komunikasi
Dinamika kelompok
Pengembangan dan Pengorganisasian Masy.
Pengembangan Kesehatan Masy. Desa
Pemasaran Sosial
Pengembangan Organisasi
Pendidikan dan Pelatihan
Pengembangan Media
Perencanaan dan Evaluasi PK
Antropologi Kesehatan
Sosiologi Kesehatn
Psikologi Sosial

HALUSINASI

HALUSINASI
Pengertian Halusinasi
Halusinasi merupakan penginderaan tanpa sumber rangsangan eksternal, dimana gangguan persepsi terhadap lima rasa yang berupa adanya stimulus ekstrem. Suatu penerimaan panca indera tanpa adanya rangsanan dari luar.
Klasifikasi halusinasi
Pada klien dengan gangguan jiwa ada beberapa jenis halusinasi dengan karakteristik tertentu diantaranya sbb:
Halusinasi pendengaran
Halusinasi penglihatan
Halusinasi penciuman
Halusinasi pembauan

Faktor penyebab terjadinya halusinasi
Faktor predisposisi
Terjadinya halusinasi oleh multi faktor eksternal maupun internal.
Faktor komunikasi
Faktor biologis
Faktor psikologis
Faktor sosial budaya
Faktor genitalia

FAKTOR PRESITIPITASI
secara umum klien dengan gangguan halusinasi timbul gangguan setelah adanya hubungan yang bermusuhan, tekanan isolasi, perasaaan tidak berguna, putus asa, dan tidak berdaya.
Faktor sosial budaya
Faktor biokimia
Faktor psikologis
Mekanisme koping
Faktor perilaku
Faktor fisika
Faktor emosi
Status intelektual
Status sosial
Status spiritual

Proses terjadinya halusinasi
Halusinasi pendengaran merupakan bentuk paling sering dari gangguan persepsi pada klien dengan gangguan jiwa ( skizoprenia) bentuk halusinasi ini biasanya berupa pendengaran. Tetapi paling sering mendengar panggilan orang yang tidak ada objeknya yang dapat memberikan rasa aman atau ketakutan yang mempengaruhi tingkahlaku klien, sehingga klien menghasilkan respon tertentu seperti bicara sendiri, atau respon lain yang membahayakan.
Perkembangan halusinasi terjadi dalan 4 fase yaitu:
Fase pertama
pada fase ini mengalami masa cemas
( ansietas), stress, perasaan gelisah dan kesepian. Klien mungkin melamun dan memfokuskan pada hal – hal yang menyenangkan untuk sementara. Klien masih dapat mengontrol kesadarannya dan mengontrol pemikirannya ini sebagai dari dirinya meskipun intensitas persepsi meningkat.

Fase kedua
ansietas pada fase ini meningkat yang dipengaruhi oleh pengalaman yang bersumber pada internal dan eksternal, klien berada pada tingkat halusinasinya. Pemikiran eksternal jadi lebih menonjol, perasaan klien tidak efektif.

Fase ketiga
Halusinasi jadi lebih menonjol menguasai dan mengontrol pemikiran klien. Klien jadi lebih terbiasa arus halusinasi dan tak berdaya melawan halusinasinya yang menjadi kesenangan dan keamanan yang bersifat sementara.

Fase ke empat
pada fase ini klien merasa tidak berdaya melepaskan diri dari kontrol halusinasinya. Halusinasi yang tadinya menyenangkan berubah menjadi mengancam, memerintah, dan pemarah.

Asuhan keperawatan
PENGKAJIAN
Data subjek
Mendengar suara – suara
Takut terhadap suara – suara yang di dengar
Ingin memukul dan menampar barang


Data objek
Dirawat ketiga kalinya dengan alasan amuk
Klien sering berbicara sendiri


POHON MASALAH


DIAGNOSA KEPERAWATAN
Resiko tinggi melakukan kekerasan yang b/d halusinasi pendengaran
Perubahan sensori – perseptual : halusinasi pendengaran yang b/d menarik diri
Kerusakan interaksi sosial : menarik diri b/d harga diri rendah kronis
Sindrom defisit perawatan diri : mandi, berpakaian, b/d intoleransi aktifitas.
INTERVENSI
Tujuan umum : klien tidak melakukan kekerasan
Tujuan khusus :
klien dapat mengungkapkan perasaannya
Intervensi
Bina hubungan saling percaya
Ciptakan lingkungan yang bersahabat
Beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya
Ajak klien membicarakan hal – hal yang nyata


Klien dapat mengendalikan halusinasinya
INTERVENSI
Adakan kontak sering dan singkat
Dorong klien untuk mengungkapkan perasannya
Beri penguatan dan pujian terhadap tindakan klien yang positif
Diskusikan cara mencegah timbulnya halusinasi dan mengendalikannya.

Klien dapat menggunakan obat untuk mengendalikan halusinasinya
Bantu klien dan pastikan klien minum obat
Obserpasi tanda, gejala terkait efek samping obat.


Pendidikan kesehatan
Membimbing klien mengontrol halusinasinya
Jelaskan kepada keluarga cara merawat dan mengatasi halusinasi pendengaran pasien.

PENUAAN PADA SISTEM PULMONAL

PENUAAN PADA SISTEM PULMONAL
Penuaan adalah fenomena universal yang mengubah cadangan fisiologis individu dan kemampuan untuk mempertahankan homeostatis, khususnya pada stres (misalnya pada kondisi sakit).
Walaupun sistem pulmonal setiap harinya diserang dengan berbagai kondisi yang merugikan (misalnya pencemaran, dan merokok), sistem tersebut memiliki kapasitas untuk tetap mempertahankan hidup individu selama kehidupannya.
Sebagian besar perubahan normal yang dihubungkan dengan penuaan terjadi secara bertahap, sehingga lansia dapat beradaptasi. Perubahan yang paling banyak ditemukan adalah yang berhubungan dengan homeostatis, tetapi bahkan kerusakan yang kecil dapat mengganggu keseimbangan yang tidak pasti ini.

Perubahan anatomis seperti penurunan komplians paru dan dinding dada turut berperan dalam peningkatan kerja pernapasan sekitar 20% pada usia 60 tahun. Otot-otot pernapasan dapat meningkatkan risiko berkembangnya keletihan otot-otot pernapasan pada lansia. Perubahan-perubahan tersebut turut berperan dalam penurunan konsumsi oksigen maksimum.



Gangguan yang umumnya terjadi pada sistem respirasi antara lain :
Otot-otot pernapasan kehilangan kekuatan dan menjadi kaku
Menurunnya aktivitas dari silia
Paru-paru kehilangan elastisitas, kapasitas residu meningkat, menarik nafas lebih berat, kapasitas pernafasan maksimum menurun, dan kedalaman bernafas menurun.
Alveolsi ukurannya melebar dari biasa dan jumlahnya berkurang.
O2 pada arteri menurun menjadi 75 mmHg.
CO2 pada arteri tidak berganti
Kemampuan untuk batuk berkurang
Kemampuan pegas, dinding, dada dan kekuatan otot pernapasan akan menurun seiring dengan pertambahan usia.

Patofisiologi Gangguan yang Sering Terjadi :
1. Infeksi Saluran Pernapasan Bawah
Infeksi saluran pernapasan bawah adalah infeksi paling sering kedua pada kelompok lansia, dan pneumonia merupakand penyebab kematian pertama oleh proses infeksi. Pembersihan jalan napas yang tidak efektif, peningkatan kolonisasi, dan gangguan respons sistem imun pada lansia dapat mencapai puncaknya dengan pneumonia.
Lansia yang berada di institusi perawatan cenderung untuk mengalami pneumonia karena perubahan kesadaran (stroke dan sedasi) yang dapat meninggalkan jalan napas tanpa perlindungan. Mereka juga mengalami gangguan mobilitas, yang turut berperan terhadap ketidakefektifan respirasi. Lansia yang baru mengalami inveksi virus (yaitu influenza) berisiko tinggi karena infeksi virus meningkatkan penempelan mukosa pada infeksi bakteri dan virus. Infeksi virus juga dapat mengganggu transpor mukosilia.

2. Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK)
PPOK adalah penyebab utama kematian kelima pada lansia. PPOK meliputi tiga kondisi yang terjadi dlam satu bentuk umum, yakni obstruksi aliran ekpirasi. Jika proses obstruksi dihubungkan dengan hipersekresi mukus hal itu disebut bronkitis kronis, dan jika terdapat kerusakan jarinagan alveolar, hal itu dikenal dengan efisema.

3. Emboli Paru
Sekitar 10 sampai 30% lansia yang dirawat di rumah sakit atau di rumah perawaran ditemukan mengalami emboli paru setelah dilakukan autopsi. Faktor predisposisinya meliputi kondisi hiperkoagulasi, gagal jantung, disritmia, kanker, imobilitas, dan prosedur ortopedik, yang semuanya ini sering terjadi pada lansia.

Patogenesisnya adalah statis vena dan pembentukan trombus dan embolus. Ketika embolus memasuki sirkulasi pulmonal dan menyumbat sebuah pembuluh darah, vaskonstriksi hipoksik terjadi, yang menyebabkan hipertensi pulmonal dan hipotensi sistemik. Akhirnya penurunan surfaktan, edema paru, dan atelektasis terjadi. Hanya 10% emboli paru menimbulkan infark. Jika suatu infark terjadi, biasanya terjadi dengan gagal jantung kongesif, infeksi atau penyakit paru kronis. Jika emboli cukup besar, kematian dapat terjadi.

managemen asuhan keperawatan medikal bedah

FENOMENA KEPERAWATAN
Merupakan penyimpangan/ tidak terpenuhinya kebutuhan dasar manusia (bio-psiko-sosial-spiritual), mulai dari tingkat individu sampai pada tingkat masyarakat yang juga tercermin pada tingkat sistem organ fungsional sampai subseluler.
Fenomena yang dipelajari adalah terpenuhinya kebutuhan:
Bernapas normal
Makan dan minum
Eliminasi
Bergerak dan mempertahankan sikap yang dibutuhkan
Tidur dan istirahat
Memilih, menentukan dan mengganti pakaian
Mempertahankan suhu tubuh normal


8. Mempertahankan kebersihan
tubuh
9. Menghindari bahaya lingkungan
10. Berkomunikasi dengan orang lain
11. Membantu melaksanakan ibadah
sesuai kepercayaan
12. Melakukan pekerjaan yang dapat
memberikan kepuasan
13. Bermain/ berpartisipasi
14. Belajar menemukan sesuatu yang
baru

Kebutuhan dasar ini akan mengalami penyimpangan atau gangguan bila terjadi suatu stimulus. Stimulus yang terjadi dapat berupa:
Penyakit/ masalah anak
Penyakit/ masalah maternitas
Penyakit/ masalah medikal bedah
Penyakit/ masalah jiwa
Penyakit/ masalah komunitas

MASALAH KEPERAWATAN

DIAGNOSA KEPERAWATAN

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Terdiri dari:
Masalah (P) + Penyebab (E) + Tanda & gejala (S)

Contoh:
P: Bersihan jalan napas tidak efektif.

E: Produksi sekresi yang meningkat, kental dan banyak serta tidak bisa dikeluarkan.

S: Pasien mengeluh sukar bernapas, perubahan pada frekuansi dan irama pernapasan, suara napas yang abnormal (wheezing, ronchi).

A. TERAPI KEPERAWATAN
Terapi keperawatan adalah intervensi keperawatan yang unik yang hanya dapat dilakukan oleh seorang profesional (Ners).

Nightingle (1859): what nursing has to do…is to put the patient in the best condition for nature to act upon him.
Cth: memberikan kondisi alamiah terbaik bagi
klien untuk bernapas normal dengan cara:
Napas dalam
Perubahan posisi
Lingkungan tenang/ tidak ramai


Henderson (1955): The unique function of the nurse is to assist the individual sick or well, in the performance of those activities contributing to health or its recovery (or peaceful death) that he would perform unaided if he had the necessary strenght, will, or knowledge.

Watson (1979): It is the client who knows what hurts and the facilitator should allow the direction of the therapeutic process to come from the client.
Watson (1979): 10 carative factors
Menerapkan nilai-nilai humanistik dan alturistik dalam merawat pasien.
Menumbuhkan harapan klien.
Perawat memberi kesempatan pada pasien mengekspresikan perasaannya.
Mengembangkan hubungan saling percaya.
Menerima ekspresi perasaaan positif dan negatif.

Menyediakan Mengunakan proses penyelesaian masalah.
lingkungan Meningkatkan proses belajar mengajar melalui proses interpersonal.
biopsikososial dan kultural yang suportif dan protektif.
Membentu pemenuhan kebutuhan dasar.
Memberi kesempatan pada pasien untuk mempelajari fenomena yang terjadi.


King (1982): to help individuals maintain their health…through interpersonal process of action, interaction and transaction.

Roy (1984): nursing aims to increase person’s adaptive respons and to decrease ineffective respons
BENTUK TERAPI KEPERAWATAN
Tindakan yang bersifat alamiah.
Tindakan berupa bantuan untuk melakukan tindakan yang bersifat alamiah tersebut.
Tindakan berupa proses interaksi untuk mempengaruhi klien dan keluarga agar bersedia merubah perilaku/ mengikuti program perawatan.
Tindakan berupa proses interaksi untuk meningkatkan adaptasi klien dengan masalahnya.
Tindakan berupa pendidikan kesehatan agar mampu melakukan bagi diri klien.
Nursing Intervention Classification (NIC)
1993, NIC 336 intervention
1996, NIC 433 intervention
NIC: Standarized language used to describe the treatments that nurses perform


Much of health care is nursing care


Nursing care is crucial to the welfare of Health care recipents.
The impact of nursing care is nearly invisible.
Do actions of nurses make difference to the quality of care?
We need classification of nursing diagnoses, interventions and outcomes.

NANDA, NIC, NOC
Alasan perlunya NIC
1. Standardisasi Nomen Klatur
Istilah/ pernyataan bermacam-macam
Renpra sangat panjang

2. Ekspansi Ilmu Keperawatan
NANDA Standardisasi Intervensi Keperawatan
Outcomes
Kontribusi ilmu pengetahuan

3. Pengembangan sistem infrastruktur
kesehatan
Komputerisasi Standar Intervensi



4. Pendidikan dalam penetapan keputusan.
Diagnosis Body image disturbance

5. Penetapan biaya untuk perawat.

6. Perencanaan fasilitas tenaga.

7. Bahasa yang spesifik dalam keperawatan.
What does a nurse do that is unique

8. Artikulasi sistem klasifikasi dalam pelayanan kesehatan.
International Classification of Diseases (ICD)
TOXONOMY OF NURSING INTERVENTION
Systemic organization of the intervention Labels based upon Simularities into what can be considered a conceptual framework

Level 1: Domains 13 domains
Level 2: Classes 47 classes
Level 3: Diagnoses 172 diagnoses
Level 4: Interventions 433 interventions

DOMAIN: Ruang lingkup kegiatan, studi atau ketertarikan.

KELAS: Suatu subdivisi dari kelompok besar, suatu divisi/ pembagian dari orang atau benda berdasarkan kualitas, peringkat atau tingkat kepentingan.

DIAGNOSA KEPERAWATAN: Keputusan klinis terhadap individu, keluarga atau komunitas yang merupakan respon terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan baik aktual maupun potensial dan memberikan dasar terapi dalam pencapaian tujuan dan dapat dipertanggungjawabkan.
Nursing Intervention
Any treatment, based upon clinical judgment and knowledge, that a nurse performs to enhance patient/ client outcomes.

A direct care intervention
An indirect care intervention
A nurse-initiated treatment
A physician-initiated treatment
Nursing Activities
The spesific behaviors or actions that nurses do to implement an intervention and which assist patients/clients to move toward a desired outcome. Nursing activities are at concrete level of action. A series of activities is necessary to implement an intervention.
B. OBSERVASI KEPERAWATAN
Observasi tanda-tanda vital analisis sehingga mengetahui tanda-tanda dini bahaya yang mungkin terjadi.
Observasi tanda dan gejala adanya masalah fisik.
Observasi tanda dan gejala adanya masalah psikososial.
Analisis pemeriksaan laboratorium sehingga dapat memberi intervensi dan segera mendiskusikan dengan dokter.

C. PENDIDIKAN KESEHATAN
Menjadi peran utama Ners
Problem Solving Approach
Ada Reinforcement

D. TINDAKAN KOLABORASI
Memasang infus
Memeberikan oksigen
Memasang NGT
Dll.

Asuhan Keperawatan dengan ANSIETAS

Stress adalah stimulus atau situasi yang menimbulkan distress secara fisik dan psikis pada seseorang.

Anxietas merupakan repon subjektif terhadap stress.

Respon tubuh terhadap stressor:
a. Reaksi alam
b.Tahap resistensi
c. Tahap kelelahan

Penyebab DISTRESS
Transisi yang bersifat positif dan negatif
Gangguan fungsional tubuh individu
Statistikal manual disorder terhadap 4 aksis pada diagnosis gangguan jiwa


Respon ansietas tidak terlepas oleh faktor berikut ini:
1. Usia,maturitas perkembangan atau keduanya
2. Status kesehatan jiwa dan fisik
3. Predisposisi genetik
4. Nilai nilai budaya yang dirasakan
5. Dukungan sosial dan lingkungan
6. Respon koping yang dipelajari

Aspek Psikobiologi ansietas & stres
Perubahan neurobiologik pada fase alarm dari respon “ light orr flight” sistem tubuh (12 sistem tubuh) yang cenderung adanya gejala takikardia, sakit kepala, diare,mual, etc.


Neurotransmitter
a. GABA (Asam Gamma Amino Butiran) adalah transmitter inhibitor berkaitan dengan respon relaksasi.
b. Serotinin adalah neurotransmitter kompleks yang erhubungan dengan berbagai fungsi otak
c. norepineprin adalah neurotransmitter yang bertanggung jawab atas perubahan kardiovaskuler.

3. Penelitian Genetika
Sistem & Adaptasi terhadap Stres
Hipotalamus Stimulus SSP
SS.Simpatik Stimulus medula adrenal
Medula Adrenal Melepaskan epineprin dan norepineprin
Mata Dilatasi pupil
Kelenjar air mata Meningkatkan sekresi air mata
S. Pernapasan Dilatasi bronkiolus da pembuluh darah pulmonar dan meningkatnya frekwensi pernapasan

Sistem Kardiovaskuler Meningkatkan kekuatan kontraksi jantung, meningkatkan curah jantung, nadi,TD.
Sistem G I Menurunkan mobilitas gastrik, sekresi, kontraksi spingter.
Hati Glikolisis dan glikonoegenesis dan menurunkan sintesis glikogen

S.Perkemihan Meningkatkan moblitas ureter,kontraksi otot kandung kemih,merilekskan spingter kandung kemih.
Kelenjar Keringat Meningkatkan sekresi
Sel Sel Lemak Lipolisis

Kemampuan belajar dan menghadapi stres semakin menurun


Ringan Sedang Berat Panik



Bidang persepsi dan kemampuan untuk berfokus semakin berkurang



PENGKAJIAN
Kaji ulang riwayat klien untuk adanya stressor.
Catat gejala fisiologik dari ansietas klien
Tentukan tingkat anxieta klien
Tentukan respon kognitif klen
Observasi perilaku
Tentukan derajat distres klien terhadap keluarga
Tentukan strategi koping yang digunakan
Diagnosa Keperawatan
Gangguan Interaksi
Cemas
Koping individu tidak efektif
Kopng keluarga tidak efektif
Konflik keputusan
Gangguan pola tidur
Resiko kekerasan

Strategi Koping (-) stres
Mencari orang yang dapat membantu
Berusaha mendisiplinkan diri dan tekun
Melepaskan emosi yang kuat
Memikirkan pilihan da menggunakantehnk memecahka masalah
Melakukan olah raga fisik untuk melepaskan energi
Menggunakan tehnik relaksasi:
a. Mendengarkan musik
b. Mandi dengan air hangat
c. Meditasi

KEPERAWATAN PERIOPERATIF


KEPERAWATAN PERIOPERATIF:
Istilah yang digunakan untuk menggambarkan fungsi keperawatan yang berkaitan dengan pengalaman pembedahan pasien.

“PERIOPERATIF”
Suatu istilah gabungan yang mencakup tiga fase pengalaman pembedahan: praoperatif intraoperatif, dan pascaoperatif.


FASE PRAOPERATIF
Dimulai ketika keputusan untuk intervensi bedah dibuat dan berakhir ketika pasien dikirim ke meja operasi.

Lingkup aktifitas keperawatan: penetapan pengkajian dasar pasien di tatanan klinik atau di rumah, menjalani wawancara praoperatif, dan menyiapkan pasien untuk anestesi pada pembedahan.

FASE INTRA OPERATIF
Dimulai ketika pasien masuk ke bagian atau departemen bedah dan berakhir saat pasien dipindahkan ke ruang pemulihan.

Lingkup aktifitas keperawatan: memasang infus, memberikan medikasi intravena, melakukan pemantauan fisiologis menyeluruh sepanjang prosedur pembedahan dan menjaga keselamatan pasien.

FASE PASCAOPERATIF
Dimulai pada saat pasien masuk ke ruang pemulihan dan berakhir dengan evaluasi tindak lanjut pada tatanan klinik atau di rumah.

Lingkup aktifitas keperawatan:
Mengkaji efek agen anestesi, membantu fungsi vital tubuh, serta mencegah komplikasi.
Peningkatan penyembuhan pasien dan penyuluhan, perawatan tindak lanjut, rujukan yang penting untuk penyembuhan yang berhasil dan rehabilitasi diikuti dengan pemulangan.


PERTIMBANGAN GERONTOLOGI
Persyaratan khusus untuk mencapai hasil optimal setelah pembedahan pada lansia meliputi:
Pengkajian dan pengobatan praoperatif yang terampil.
Anestesia dan pembedahan yang cermat.
Penatalaksanaan pascaoperatif yang sangat cermat dan kompeten.
INDIKASI & KLASIFIKASI PEMBEDAHAN
1. INDIKASI: Diagnostik, Kuratif, Reparatif, Rekonstruktif/ kosmetik, dan Paliatif.

2. KLASIFIKASI: Kedaruratan, Urgen, Diperlukan, Elektif, dan Pilihan.


DIAGNOSTIK: biopsi, laparatomi eksplorasi,…
KURATIF: Eksisi tumor, apendiktomi,…
REPARATIF: memperbaiki luka multipleks/ debridement,…
REKONSTRUKTIF/ KOSMETIK: mammoplasti,…
PALIATIF: Untuk menghilangkan nyeri atau memperbaiki masalah (pemasangan selang gastrostomi)



KEDARURATAN: Pasien membutuhkan perhatian segera; ganguan mungkin mengancam jiwa.

Indikasi untuk pembedahan: Tanpa ditunda.

Contoh: Perdarahan hebat, obstruksi kandung kemih atau usus, fraktur tulang tengkorak, luka tembak atau luka tusuk, luka bakar sangat luas.

URGEN: Pasien membutuhkan perhatian segera.
Indikasi u/ pembedahan: Dalam 24-30 jam.
Contoh: Batu ginjal atau batu pada ureter.

DIPERLUKAN: Pasien harus menjalani pembedahan
Indikasi u/ pembedahan: Direncakan dalam beberapa minggu/ bulan.
Contoh: Hiperplasia prostat tanpa obstruksi kandung kemih, gangguan tiroid, katarak.

ELEKTIF: Pasien harus dioperasi ketika diperlukan.
Indikasi u/ pembedahan: Tidak dilakukan pembedahan jika tidak terlalu membahayakan.
Contoh: Perbaikan eskar, Perbaikan vaginal, Hernia sederhana.

PILIHAN: Keputusan terletak pada pasien.
Indikasi u/ pembedahan: Pilihan pribadi.
Contoh: Bedah kosmetik.
TINJAUAN PROSES KEPERAWATAN
PENGKAJIAN
Pengkajian pasien pasien bedah meliputi evaluasi faktor-faktor fisik dan psikologis secara luas.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Ansietas b/d pengalaman bedah (anastesi, nyeri) dan hasil akhir dari pembedahan.
Defisit pengetahuan mengenai prosedur dan protokol praoperatif dan harapan pascaoperatif.

INTERVENSI KEPERAWATAN
Menurunkan ansietas praoperatif
Penyuluhan pasien

EVALUASI
Hasil-hasil yang diharapkan:
1. Ansietas berkurang:
Mendiskusikan kekhawatiran yang berkaitan dengan tipe anastesi.
Mengungkapkan suatu pengalaman tentang medikasi praanastesi.
Mendiskusikan kekhawatiran saat-saat terakhir dengan perawat/ dokter.
Mendiskusikan masalah finansial dengan pekerja sosial bila diperlukan.
Meminta kunjungan pendeta bila diperlukan.
Benar-benar rileks setelah dikunjungi oleh anggota tim kesehatan.

2. Siap terhadap intervensi pembedahan:
Ikut serta dalam persiapan praoperatif.
Menunjukkan dan menggambarkan latihan yang diperkirakan akan dilakukan pasien setelah operasi.
Menelaah informasi tentang perawatan.
Menerima medikasi praanastesi.
Tetap berada di tempat tidur.
Relaks selama trasformasi ke unit operasi.
Menyebutkan rasional penggunaan pagar tempat tidur.

PENGKAJIAN FISIK UMUM PASIEN PRAOPERATIF

Status Nutrisi dan Penggunaan Bahan Kimia: obesitas, penggunaan obat dan alkohol.
Status Pernapasan.
Status Kardiovaskuler.
Fungsi Hepatik dan Ginjal.
Fungsi Endokrin.
Fungsi Imunologi
Terapi Medikasi Sebelumnya: kortikosteroid adrenal, diuretik, fenotiasin, dll.
INFORMED CONSENT
Persetujuan tindakan medik diperlukan ketika:
Prosedur tindakan adalah invasif.
Menggunakan anestesi.
Prosedur non-bedah yang dilakukan dimana risikonya pada pasien lebih dari sekedar risiko ringan, spt: arteriogram.
Prosedur yang dilakukan mencakup terapi radiasi.
PENDIDIKAN PASIEN PRAOPERATIF
Latihan napas dalam, batuk, dan relaksasi.
Perubahan posisi dan gerakan tubuh aktif.
Kontrol dan medikasi nyeri.
Kontrol kognitif: imajinasi, distraksi, pikiran optimis diri.
INTERVENSI KEPERAWATAN PRAOPERATIF
Nutrisi dan cairan.
Persiapan intestinal.
Persiapan kulit praoperatif.
Medikasi praanestesi: barbiturat/tranquilizer (pentobarbital,benzodiasepine), opioid, antikolinergik,dll.
Catatan praoperatif.
Transportasi ke ruangan prabedah (30-60 menit sebelum anestesi).
Membantu keluarga melewati pengalaman bedah pasien.


CONTOH AKTIFITAS PERAWAT DALAM PERAN PERIOPERATIF
FASE PRAOPERATIF
Pengkajian praoperatif di klinik/ per telp:
Melakukan pengkajian perioperatif awal.
Merencanakan metode penyuluhan yang sesuai dengan kebutuhan pasien.
Melibatkan keluarga dalam wawancara
Memastikan kelengkapan pemeriksaan praoperatif
Mengkaji kebutuhan pasien terhadap transportasi dan perawatan pascaoperatif

Unit bedah:
Melengkapi pengkajian praoperatif.
Mengkoordinasi penyuluhan pasien dengan staf keperawatan lain.
Menjelaskan fese-fase dalam periode perioperatif dan hal-hal yang diperkirakan terjadi.
Membuat rencana asuhan keperawatan

Ruang operatif:
Mengkaji tingkat kesadaran pasien.
Menelaah lembar observasi pasien.
Mengidentifikasi pasien.
Memastikan daerah pembedahan

PERENCANAAN:
Menentukan rencana asuhan keperawatan.
Mengkoordinasi pelayanan dan sumber-sumber yang sesuai.

Dukungan psikologis:
Menceritakan pada pasien apa yang sedang terjadi.
Menentuka status psikologis.
Memberikan peringatan akan stimuli nyeri.
Mengkomunikasikan status emosional pasien pada anggota tim kesehatan lain yang berkaitan.
FASE INTRAOPERATIF
Pemeliharaan Keselamatan:
1. Atur posisi pasien
Kesejajaran fungsional
Pemajanan areapembedahan
Mempertahankan posisi sepanjang prosedur pembedahan
2. Memasang alat grounding ke pasien.
3. Memberikan dukungan fisik.
4. Memastikan bahwa jumlah instrumen tepat.
Pemantauan fisiologis
Memperhitungkan efek dari hilangnya atau masuknya cairan.
Membedakan data kardiopulmonal yang normal dengan yang abnormal.
Melaporkan perubahan-perubahan pada pemeriksaan vital sign.


Dukungan Psikologis (sebelum induksi dan jika pasien sadar)
Memberikan dukungan emosional pada pasien.
Berdiri dekat dan menyentuh pasien selama prosedur dan induksi.
Terus mengkaji status emosional pasien.
Mengkomunikasikan status emosional pasien ke anggota tim perawatan kesehatan lain yang sesuai.

Penatalakasanaan Keperawatan (fase intraoperatif)
Memberikan keselamatan untuk pasien.
Mempertahankan lingkungan aseptik dan terkontrol.
Secara efektif mengelola sumber daya manusia.
FASE PASCAOPERATIF
KOMUNIKASI DARI INFORMASI INTRAOPERATIF:
Menyebutkan nama pasien.
Menyebutkan jenis pembedahan yang dilakukan.
Menggambarkan faktor-faktor intraoperatif (pemasangan drain atau kateter, kekambuhan peristiwa-peristiwa yang tidak diperkirakan).
Menggambarkan keterbatasan fisik.
Melaporkan tingkat kesadaran praoperatif pasien.
Mengkomunikasikan alat-alat yang diperlukan.

PENGKAJIAN PASCAOPERATIF DI RUANG PEMULIHAN: Menentukan respons langsung pasien terhadap intervensi pembedahan.

UNIT BEDAH:
Mengevaluasi efektifitas dari asuhan keperawatan di ruangan operasi.
Menentukan tingkat kepuasan pasien dengan asuhan yang diberikan selama periode perioperatif.
Mengevaluasi produk-produk yang digunakan pada pasien di ruang operasi.
Menentukan status psikologis pasien.
Membantu dalam perencanaan pemulangan.

DI RUMAH/ KLINIK:
Gali persepsi pasien tentang pembedahan dalam kaitannya dengan agen anestesi, dampak pada citra tubuh, penyimpangan, imobilisasi.
Tentukan persepsi keluarga tentang pembedahan